jump to navigation

MENJEMPUT HIDAYAH 7 November, 2009

Posted by mastoro in Menjemput Hidayah Allah.
Tags:
add a comment

Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.

(QS. Al-Fatihah [1]: 6)

Kata ihdinaa (tunjukkanlah kami) dalam ayat di atas merupakan bentuk kata perintah (fi’lu al-amr) dari kata hadâ-yahdii. Hadâ-yahdii sendiri artinya adalah memberi petunjuk kepada hal-hal yang benar. Kata hidayah merupakan bentuk fi’lu al masdar dari kata ini. Dalam Tafsir Munir karya Dr. Wahbah Az Zuhaily, hidayah ada lima macam. Satu hidayah ke hidayah yang lain bersifat hierarkis, di mana hidayah yang ada di bawahnya akan menyempurnakan hidayah yang ada di atasnya. Jadi semakin ke bawah maka semakin tinggi nilainya. Adapun kelima hidayah tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama, hidayah ilhami. Hidayah ini adalah fitrah yang Allah SWT berikan kepada semua makhluk ciptan-Nya. Contohnya, Allah SWT memberikan hidayah ilhami kepada lebah yang suka hinggap di bunga untuk mengambil saripatinya, dapat membangun sarang yang menurut para ahli adalah desain yang paling sempurna berdasarkan fungsinya. Seorang bayi yang lapar diberi hidayah ilhami oleh Allah SWT untuk menangis dan merengek-rengek pada ibunya agar diberi ASI. Siapakah yang mengajari lebah dan bayi tadi untuk melakukan hal tersebut? Tentunya kita yang beriman kepada Allah SWT akan menjawab: itulah kekuasaan Allah SWT yang telah memberikan hidayah ilhami kepada makhluk-Nya. Semua makhluk yang diciptakan Allah SWT akan menerima hidayah ini. Dalam bahasa kita, hidayah ilhami ini adalah insting, yang merupakan tingkat inteligensi paling rendah.

Kedua, hidayah hawasi. Hidayah hawasi adalah hidayah yang membuat makhluk Allah SWT mampu merespon suatu peristiwa dengan respon yang sesuai. Contohnya adalah, ketika manusia mendapatkan kebahagiaan maka ia akan senang dan jika mendapatkan musibah maka ia akan sedih. Dalam istilah kita, hidayah hawasi ini adalah kemampuan inderawi.

Hidayah hawasi sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Maka respon yang ditimbulkan dari sebuah peristiwa sangat tergantung dengan lingkungan kita. Jika lingkungan itu normal maka respon kita akan normal. Misalnya, orang yang mendapatkan musibah akan sedih karena lingkungannya mengajarkan untuk merespon peristiwa tersebut dengan bersedih. Di lain tempat dan waktu mungkin saja respon ini berubah karena lingkungannya merespon dengan hal yang berbeda. Maka untuk mendapatkan hidayah hawasi ini kita harus membuat atau mengondisikan agar lingkungan kita normal alamiah.

Ketiga, hidayah aqli (akal). Hidayah akal adalah hidayah yang diberikan khusus pada manusia yang membuatnya bisa berfikir untuk menemukan ilmu dan sekaligus merespon peristiwa dalam kehidupannya dengan respon yang bermanfaat bagi dirinya. Hidayah akal akan bisa kita miliki manakala kita selalu mengambil pelajaran dari segala sesuatu, segala peristiwa, dan seluruh pengalaman hidup kita ataupun orang lain. Allah SWT berfirman:

“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan bagi mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) sebagai pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai wawasan”. (QS. Al-Hasyr [59]: 2).

Yang dimaksud dengan ahli Kitab dalam ayat ini ialah orang-orang Yahudi Bani Nadhir pada masa Nabi Muhammad SAW di Madinah. Merekalah yang mula-mula dikumpulkan untuk diusir keluar dari Madinah karena mereka mengingkari Piagam Madinah.

Ayat ini memerintahkan kita untuk senantiasa mengambil hikmah dan ‘ibroh dari segala kejadian dalam kehidupan ini, dengan harapan kita tidak terjebak pada permasalahan yang sama. Hidayah akal ini akan bekerja dengan ilmu yang diperoleh, dari proses pembelajaran kehidupan yang telah dilakukan, yang kemudian digunakan untuk memilih respon yang terbaik bagi diri di masa mendatang. Semakin banyak kita mengambil pelajaran maka semakin tinggi kualitas hidayah akal kita.

Namun Hidayah akal ini mempunyai keterbatasan dalam menyeragamkan respon terhadap sebuah kejadian untuk seluruh manusia. Ada pepatah “lain ladang, lain pula belalangnya. Lain kepala, lain pula isinya.” Mungkin respon tertentu baik menurut kita, akan tetapi belum tentu baik menurut orang lain. Maka diperlukan sebuah standar untuk menyeragamkan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang hak dan mana yang batil. Jawaban untuk hal ini ada pada tingkatan hidayah selanjutnya.

Keempat, hidayah dien (agama). Hidayah agama adalah sebuah panduan ilahiyah yang membuat manusia mampu membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang baik dan yang buruk. Hidayah agama ini merupakan standard operating procedure (SOP) untuk menjalani kehidupan. Tentunya yang membuatnya adalah yang Maha segala-galanya, yang menciptakan manusia itu sendiri, yaitu Allah SWT. Karena yang Allah SWT tentukan, pastilah itu yang terbaik. Allah SWT berfirman :

”…. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).

Maka apa saja yang ditentukan oleh agama, pastilah itu yang terbaik untuk kita. Hidayah agama ini bisa kita peroleh manakala kita selalu belajar dan memperdalan agama Islam ini.

Seperti Allah SWT tegaskan dalam Alqur’an:

”Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran [3]: 79).

Semua orang mampu mempelajari agama ini (Al Qur’an dan As Sunnah), akan tetapi tidak semua orang berkemauan untuk mengamalkan agama ini. Kemauan untuk mengamalkan agama akan berbanding lurus dengan sejauh mana kita bisa manggapai hidayah taufiq.

Kelima, hidayah taufiq. Hidayah taufiq adalah adalah hidayah yang membuat manusia hanya akan menjadikan agama sebagai panduan hidup dalam menjalani kehidupannya. Hidayah taufiq ibarat benih yang Allah SWT semaikan di hati yang tidak hanya bersih dari segala hama penyakit, tetapi juga subur dengan tetesan robbani. Bersih dan suburnya hati akan terlihat dari pohon-pohon kebaikan dan amal yang tumbuh di atasnya. Hanya kesungguhan yang akan membuat kita pantas menerima hidayah taufiq dari Allah SWT. Firman Allah SWT :

”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabuut [29]: 69).

Maka tidak ada jalan lain agar kita mendapatkan Hidayah Taufiq Allah SWT, kecuali dengan jalan bersungguh-sungguh dan berjihad untuk menjalankan dan mengamalkan agama yang indah ini.

Penutup

Hidayah Allah SWT memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Semakin besar perjuangan dan kesungguhan kita, maka insya Allah kita akan semakin mudah mendapatkannya, karena semuanya tergantung kepada usaha kita. Hidayah Allah SWT ibarat sinar matahari yang menyinari seluruh alam ini, dan kita adalah penerima sinar tersebut. Jika kita membuka diri dengan hati yang bersih maka kita akan mudah untuk mendapatkan sinar hidayah Allah SWT. Tapi jika kita menutupi hati dan diri kita dengan kotoran dan hama penyakit hati maka kita akan sulit untuk mendapatkan sinar hidayah-Nya.

Wallahu a’lam.

Cecep Sa’bana Rahmatillah

Alumni Takmir Masjid Ulil Albab (TMUA) UII

Ketika Jalan Terhampar Kerikil 28 November, 2009

Posted by mastoro in Menjemput Hidayah Allah.
add a comment

Seberkas pelangi jingga sore itu menghiasi ufuk-ufuk yang perlahan menggelap, serta alunan adzan berkumandang dan membahana masuk meresap syahdu ke dalam kalbu orang-orang yang mendengar.

Sore itu, adalah sore terakhir untuk menelan segala kepahitan, dan awal untuk kembali mendongakkan kepala serta menatap jauh ke depan. Seiring berjalan, seiring mereka paham mengapa Allah mempertemukan serta memisahkan mereka.

Manusia boleh berharap, manusia boleh berupaya, namun pucuk sebuah jawab tetap terletak pada Yang Mahatahu. Apakah mereka hendak menjadi bunga-bunga yang layu, tak bertenaga, lalu jatuh terinjak rusak menyatu dengan tanah?

Sampai kapan sebuah kekecewaan berhenti menggerogoti hati? Malah justru makin memperbayak butiran-butiran noktah hitam yang tak lain merupakan penyakit diri. Lihatlah sesuatu sewajarnya, lalu kembalikan kepada asal-muasal niat yang menjadi dasar.

Apapun bentuknya, perjalanan masih panjang, dan titian ini belum tentu akan terasa buahnya dalam satu langkah waktu, boleh jadi anak mereka, boleh jadi cucu mereka, atau bisa saja puluhan garis keturunan setelah mereka.

Hanya ada satu pilihan, bergerak atau tergantikan.
Dan jalan masih panjang. Setiap masa adalah babak, epidose, lembar, alunan cerita.
Berbanggalah, karena mereka telah diberikan kesempatan untuk mengecup sebuah masa.
Mengecup dan merasakan, sebuah masa.

Singgah di Taman Surga 28 November, 2009

Posted by mastoro in Menjemput Hidayah Allah.
Tags:
add a comment

Dari Anas bin Malik radhiyallohu ‘anhu bahwa Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “jika kalian melewati taman-taman surga maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqoh-halaqoh dzikir.”

(HR. at-Tirmidzi dan lain-lain)

Apakah yang dimaksud dengan halaqoh dzikir? Para Ulama menyebutkan makna halaqoh dzikir ada beberapa macam yaitu :

Pertama, sekelompok orang yang duduk bersama disuatu tempat kemudian masing-masing berdzikir sendiri-sendiri dengan suara pelan.

Makna ini didasarkan pada hadits Mu’awiyah rodhiyallohu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di kitab shahihnya bahwa Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam pernah keluar pada suatu halaqoh para sahabat. Kemudian beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian duduk (disini)?”

Para sahabat menjawab, “Kami duduk berdzikir kepada Alloh.” Beliau bertanya lagi, “Demi Alloh, apakah kalian duduk (disini) hanya karena hal itu (dzikir)?” Para sahabat menjawab, “Demi Alloh, tidak ada yang menyebabkan kami duduk (disini) kecuali karena hal itu.”

Beliau bersabda , “Sesunggunya aku tidaklah meminta kalian bersumpah karena aku menyangka kalian berbohong. Akan tetapi Jibril telah mendatangiku, lalu memberitahukan kepadaku bahwa Alloh membanggakan kalian kepada malaikat.”

Di dalam hadits tersebut ada isyarat bahwa mereka berdzikir dengan suara pelan yaitu dari pertanyaan Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam kepada orang-orang yang berdzikir tersebut. Seandainya mereka berdzikir dengan suara keras, tentunya Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam akan mengetahui dan tidak bertanya lagi.

Dalil lain adalah dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallohu ‘anhu bahwa beliau mengingkari orang-orang yang berdzikir bersama-sama dengan pengingkaran yang sangat keras.

Kedua, duduk bersama-sama untuk membaca dan mempelajari al-Quran.

Yaitu salah seorang membaca dan lainnya mendengarkan. Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul didalam salah satu rumah diantara rumah-rumah Alloh, mereka membaca kitab Alloh dan saling belajar diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, dan Alloh menyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapan-Nya.”

Ketiga, majelis ilmi yaitu yang membahas ilmu-ilmu agama, membahas tentang halal dan haram dan lainnya.

Berdasar hadits dari Abu Waqid al-Laitsi radhiyallohu’anhu bahwa ketika Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam sedang duduk dalam masjid bersama para sahabat, tiba-tiba datanglah tiga orang. Dua orang menghampiri Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam dan yang seorang pergi. Orang yang pertama melihat ada celah pada halaqoh lalu duduk disana. Orang yang kedua duduk di belakang mereka (di belakang halaqoh). Sedangkan orang yang ketiga berpaling dan pergi. Setelah Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam selesai, beliau bersabda, “Maukah akuberitahu kliantentang tiga orang tadi? Adapun salah satu dari mereka, dia mendekat kepada Alloh maka Alloh-pun mendekatkannya. Adapun yang lain, dia malu, maka Alloh-pun malu kepadanya. Dan yang lain lagi dia berpaling, maka Alloh-pun berpaling darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly berkata, “Majelis-majelis dzikir adalah majelis-majelis ilmu yang diadakan di rumah-rumah Alloh untuk belajar, mengajar dan mencari pemahaman tentang agama.” Beliau juga berkata, “Majelis dzikir yang dicintai oleh Alloh adalah majelis-majelis ilmu, bersama-sama mempelajari al-Quran dan as-Sunnah dan mencari pemahaman tentang hal itu.”

Itulah yang dimaksud dengan halaqoh dzikir yang merupakan tama-taman surga, yaitu sekelompok orang yang berdzikr di suatu tempat dengan dzikir dan tatacara yang diajarkan Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam atau berkumpul untuk mebaca dan mempelajari al-Quran atau berkumpul untuk mempelajari ilmu agama.

Bagaimana dengan kita ? Sukakah kita singgah di taman-taman surga ? jika iya, mudah-mudahan kelak kita akan menjadi salah seorang penduduk surga-Nya. Jika belum, semoga Alloh memberikan hidayah sehingga kita diberi kekuatan untuk menghampiri taman-taman surga dan menyusul mereka yang telah singgah didalamnya.

Ditulis dari : Majalah Tashfia 03/I/2006


Asmaul Husna 28 November, 2009

Posted by mastoro in 1.
Tags:
add a comment
  1. Ar-Rahman (Ar Rahman) Artinya Yang Maha Pemurah
    2. Ar-Rahim (Ar Rahim) Artinya Yang Maha Mengasihi
    3. Al-Malik (Al Malik) Artinya Yang Maha Menguasai / Maharaja Teragung
    4. Al-Quddus (Al Quddus) Artinya Yang Maha Suci
    5. Al-Salam (Al Salam) Artinya Yang Maha Selamat Sejahtera
    6. Al-Mu’min (Al Mukmin) Artinya Yang Maha Melimpahkan Keamanan
    7. Al-Muhaimin (Al Muhaimin) Artinya Yang Maha Pengawal serta Pengawas
    8. Al-Aziz (Al Aziz) Artinya Yang Maha Berkuasa
    9. Al-Jabbar (Al Jabbar) Artinya Yang Maha Kuat Yang Menundukkan Segalanya
    10. Al-Mutakabbir (Al Mutakabbir) Artinya Yang Melengkapi Segala kebesaranNya
    11. Al-Khaliq (Al Khaliq) Artinya Yang Maha Pencipta
    12. Al-Bari (Al Bari) Artinya Yang Maha Menjadikan
    13. Al-Musawwir (Al Musawwir) Artinya Yang Maha Pembentuk
    14. Al-Ghaffar (Al Ghaffar) Artinya Yang Maha Pengampun
    15. Al-Qahhar (Al Qahhar) Artinya Yang Maha Perkasa
    16. Al-Wahhab (Al Wahhab) Artinya Yang Maha Penganugerah
    17. Al-Razzaq (Al Razzaq) Artinya Yang Maha Pemberi Rezeki
    18. Al-Fattah (Al Fattah) Artinya Yang Maha Pembuka
    19. Al-’Alim (Al Alim) Artinya Yang Maha Mengetahui
    20. Al-Qabidh (Al Qabidh) Artinya Yang Maha Pengekang
    21. Al-Basit (Al Basit) Artinya Yang Maha Melimpah Nikmat
    22. Al-Khafidh (Al Khafidh) Artinya Yang Maha Perendah / Pengurang
    23. Ar-Rafi’ (Ar Rafik) Artinya Yang Maha Peninggi
    24. Al-Mu’izz (Al Mu’izz) Artinya Yang Maha Menghormati / Memuliakan
    25. Al-Muzill (Al Muzill) Artinya Yang Maha Menghina
    26. As-Sami’ (As Sami) Artinya Yang Maha Mendengar
    27. Al-Basir (Al Basir) Artinya Yang Maha Melihat
    28. Al-Hakam (Al Hakam) Artinya Yang Maha Mengadili
    29. Al-’Adl (Al Adil) Artinya Yang Maha Adil
    30. Al-Latif (Al Latif) Artinya Yang Maha Lembut serta Halus
    31. Al-Khabir (Al Khabir) Artinya Yang Maha Mengetahui
    32. Al-Halim (Al Halim) Artinya Yang Maha Penyabar
    33. Al-’Azim (Al Azim) Artinya Yang Maha Agung
    34. Al-Ghafur (Al Ghafur) Artinya Yang Maha Pengampun
    35. Asy-Syakur (Asy Syakur) Artinya Yang Maha Bersyukur
    36. Al-’Aliy (Al Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia
    37. Al-Kabir (Al Kabir) Artinya Yang Maha Besar
    38. Al-Hafiz (Al Hafiz) Artinya Yang Maha Memelihara
    39. Al-Muqit (Al Muqit) Artinya Yang Maha Menjaga
    40. Al-Hasib (Al Hasib) Artinya Yang Maha Penghitung
    41. Al-Jalil (Al Jalil) Artinya Yang Maha Besar serta Mulia
    42. Al-Karim (Al Karim) Artinya Yang Maha Pemurah
    43. Ar-Raqib (Ar Raqib) Artinya Yang Maha Waspada
    44. Al-Mujib (Al Mujib) Artinya Yang Maha Pengkabul
    45. Al-Wasi’ (Al Wasik) Artinya Yang Maha Luas
    46. Al-Hakim (Al Hakim) Artinya Yang Maha Bijaksana
    47. Al-Wadud (Al Wadud) Artinya Yang Maha Penyayang
    48. Al-Majid (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia
    49. Al-Ba’ith (Al Baith) Artinya Yang Maha Membangkitkan Semula
    50. Asy-Syahid (Asy Syahid) Artinya Yang Maha Menyaksikan
    51. Al-Haqq (Al Haqq) Artinya Yang Maha Benar
    52. Al-Wakil (Al Wakil) Artinya Yang Maha Pentadbir
    53. Al-Qawiy (Al Qawiy) Artinya Yang Maha Kuat
    54. Al-Matin (Al Matin) Artinya Yang Maha Teguh
    55. Al-Waliy (Al Waliy) Artinya Yang Maha Melindungi
    56. Al-Hamid (Al Hamid) Artinya Yang Maha Terpuji
    57. Al-Muhsi (Al Muhsi) Artinya Yang Maha Penghitung
    58. Al-Mubdi (Al Mubdi) Artinya Yang Maha Pencipta dari Asal
    59. Al-Mu’id (Al Muid) Artinya Yang Maha Mengembali dan Memulihkan
    60. Al-Muhyi (Al Muhyi) Artinya Yang Maha Menghidupkan
    61. Al-Mumit (Al Mumit) Artinya Yang Mematikan
    62. Al-Hayy (Al Hayy) Artinya Yang Senantiasa Hidup
    63. Al-Qayyum (Al Qayyum) Artinya Yang Hidup serta Berdiri Sendiri
    64. Al-Wajid (Al Wajid) Artinya Yang Maha Penemu
    65. Al-Majid (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia
    66. Al-Wahid (Al Wahid) Artinya Yang Maha Esa
    67. Al-Ahad (Al Ahad) Artinya Yang Tunggal
    68. As-Samad (As Samad) Artinya Yang Menjadi Tumpuan
    69. Al-Qadir (Al Qadir) Artinya Yang Maha Berupaya
    70. Al-Muqtadir (Al Muqtadir) Artinya Yang Maha Berkuasa
    71. Al-Muqaddim (Al Muqaddim) Artinya Yang Maha Menyegera
    72. Al-Mu’akhkhir (Al Muakhir) Artinya Yang Maha Penangguh
    73. Al-Awwal (Al Awwal) Artinya Yang Pertama
    74. Al-Akhir (Al Akhir) Artinya Yang Akhir
    75. Az-Zahir (Az Zahir) Artinya Yang Zahir
    76. Al-Batin (Al Batin) Artinya Yang Batin
    77. Al-Wali (Al Wali) Artinya Yang Wali / Yang Memerintah
    78. Al-Muta’ali (Al Muta Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia
    79. Al-Barr (Al Barr) Artinya Yang banyak membuat kebajikan
    80. At-Tawwab (At Tawwab) Artinya Yang Menerima Taubat
    81. Al-Muntaqim (Al Muntaqim) Artinya Yang Menghukum Yang Bersalah
    82. Al-’Afuw (Al Afuw) Artinya Yang Maha Pengampun
    83. Ar-Ra’uf (Ar Rauf) Artinya Yang Maha Pengasih serta Penyayang
    84. Malik-ul-Mulk (Malikul Mulk) Artinya Pemilik Kedaulatan Yang Kekal
    85. Dzul-Jalal-Wal-Ikram (Dzul Jalal Wal Ikram) Artinya Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan
    86. Al-Muqsit (Al Muqsit) Artinya Yang Maha Saksama
    87. Al-Jami’ (Al Jami) Artinya Yang Maha Pengumpul
    88. Al-Ghaniy (Al Ghaniy) Artinya Yang Maha Kaya Dan Lengkap
    89. Al-Mughni (Al Mughni) Artinya Yang Maha Mengkayakan dan Memakmurkan
    90. Al-Mani’ (Al Mani) Artinya Yang Maha Pencegah
    91. Al-Darr (Al Darr) Artinya Yang Mendatangkan Mudharat
    92. Al-Nafi’ (Al Nafi) Artinya Yang Memberi Manfaat
    93. Al-Nur (Al Nur) Artinya Cahaya
    94. Al-Hadi (Al Hadi) Artinya Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk
    95. Al-Badi’ (Al Badi) Artinya Yang Maha Pencipta Yang Tiada BandinganNya
    96. Al-Baqi (Al Baqi) Artinya Yang Maha Kekal
    97. Al-Warith (Al Warith) Artinya Yang Maha Mewarisi
    98. Ar-Rasyid (Ar Rasyid) Artinya Yang Memimpin Kepada Kebenaran
    99. As-Sabur (As Sabur) Artinya Yang Maha Penyabar / Sabar

Dzikirnya Alam Semesta 28 November, 2009

Posted by mastoro in Menjemput Hidayah Allah.
add a comment

Apakah alam juga berdzikir..?

Bagian ini adalah rangkaian dari cerita sebelumnya. Saat itu, setelah aku sampai di masjid, kebetulan aku berpisah dengan pak Hadi. Hal itu disebabkan karena saat itu jama’ah sudah berjubel banyak sekali. Kamipun mencari tempat sendiri sendiri, sehingga kami terpisah.

Para jama’ah yang berjubel itu, berebut memenuhi shaf-shaf depan. Sehingga aku mendapatkan shaf di belakang. Hampir di shaf yang paling akhir.Ketika aku melakukan shalat sunah, tiba-tiba di sebelah kananku datang seorang jama’ah pakai baju gamis putih-putih, berjenggot panjang menjuntai ke bawah sampai ke dada. Matanya bening, mulutnya selalu senyum.

Begitu aku selesai shalat, ia mengambil minyak wangi dari dalam bajunya, dan minyak itu dioleskan ke tanganku, dan juga ke bajuku. Ia memberi isyarat agar aku mengoleskan dan meratakan minyak darinya itu ke seluruh tubuhku. Dan kemudian ia menyelinap di antara ribuan jamaah lainnya. Lalu pergi entah kemana. Ah, seorang yang aneh! pikirku.

Harumnya minyak wangi itu begitu aneh bagiku. Bau yang lembut, tetapi terus merasuk ke nafasku yang mengakibatkan rongga dadaku menjadi nyaman dan lapang. Satu hal lagi, bahwa wajah orang itu begitu akrab dalam benakku. Aku tidak merasa asing dengan wajah itu. Tetapi aku lupa di mana aku pernah bertemu dengan wajah itu…

Shalat dhuhur rupanya masih lama, maka aku pun kembali berdzikir sambil menunggu waktu shalat tiba. Ketika aku tenggelam dalam dzikirku, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara lamat-lamat dari kejauhan, yang bertambah lama terasa bertambah dekat. Bahkan begitu jelasnya suara itu di telingaku.

Suara itu ritmenya begitu luar biasa indahnya. Datang bergelombang dengan lembut tetapi jelas. Asal suara itu datang dari atas. Setelah itu datang dari berbagai penjuru. Dari samping kiriku, dari samping kananku, bahkan dari sekelilingku. Aku terbengong sendiri.
Asalnya aku mengira ada jama’ah khusus di masjid itu yang berdzikir secara serempak bersama-sama. Tetapi anggapanku salah. Karena semua orang, semua jama’ah melakukan aktivitas sendiri-sendiri. ..

Suara itu semakin lama semakin menyejukkan hati. Dada menjadi lapang, hati menjadi tentram dan tenang. Bahkan pikiran menjadi jernih.Aku berusaha mengikuti irama indah dan agung itu. Tetapi setiap ku ikuti, suara itu tiba-tiba berhenti. Sepertinya ia mengetahui kalau ada orang yang mengikutinya. Ketika aku terdiam. Suara itu kembali muncul dan terdengar di telingaku. Begitu jelasnya dan begitu agungnya. Begitu aku akan mengikutinya ia mendadak berhenti lagi. Dan yang terdengar adalah suara berisiknya para jama’ah yang melakukan aktivitasnya masing-masing. Dan aku pun semakin heran dibuatnya.

Tetap ada satu pertanyaan yang mengusik dalam hatiku. Suara siapakah itu? Dari mana datangnya?
Ketika aku berusaha mencari jawabnya, tiba-tiba terdengar suara iqamah dari bilal sebagai pertanda waktu shalat akan dimulai. Dan aku pun melakukan shalat dhuhur bersama para jama’ah lainnya.

Sesampai di maktab, aku terus berusaha mencari jawabnya. Suara apakah itu, bergemuruh, datang dari jauh, tambah lama tambah dekat dan membentuk suatu ritme yang mempesona. Indah, agung, mesra, dan membentuk harmoni yang luar biasa…
Begitu penasarannya aku. Maka pada malam itu juga kutulis kejadian itu di dalam buku harianku. Buku yang selalu kubawa kemana saja aku pergi.

Hari ke dua, dari terjadinya peristiwa itu, aku kembali ke masjid pada jam yang sama. Dan aku menempati shaf agak depan dibanding shaf di hari sebelumnya. Seperti biasanya, sebelum waktu shalat dhuhur tiba, setelah aku lakukan shalat sunah, aku melakukan aktivitas dzikir untuk lebih menghayati dan lebih mendekatkan diri kepada Ilahi Rabbi.

Saat-saat aku melakukan dzikir itu, tiba-tiba aku tersentak! Dan bulu kudukku merinding… . Ah, ternyata suara itu terdengar kembali di telingaku. Asalnya lamat-lamat. Tetapi tambah lama bertambah jelas. Dan semakin dekat. Begitu dekatnya suara itu. Sampai aku tidak tahu dari mana datangnya. Telingaku kututup dengan tanganku, suara itu semakin jelas. Telingaku kutempelkan di lantai, di sajadahku, suara itu pun sangat jelas. Aku mendongak ke atas, suara itu pun terdengar begitu jelas bahkan seolah memenuhi atap masjid Nabawi.

Aku berusaha menenangkan diri. Setelah aku tenang, aku mencoba mengikuti suara itu dengan hatiku. Ah! Ternyata suara itu berhenti dan hilang lagi…. Aku pun meratap…” Ya Allah, apa yang terjadi dengan diriku…?” Suara apakah itu? Siapakah yang bersuara itu…

Akhirnya aku pun pulang kembali ke hotel, tanpa mendapatkan jawaban yang pasti, tentang suara misterius tadi. Berikutnya, hari itu merupakan hari yang ke tiga, sejak terjadinya peristiwa itu. Aku kembali ke masjid untuk berjama’ah shalat dhuhur. Saat itu aku mendapatkan shaf di bagian tengah. Tempatnya sangat berbeda dengan dua hari sebelumnya.

Setelah shalat sunah, seperti biasanya aku melakukan aktivitas dzikir. Dalam hati aku bertanya dan juga berharap, apakah akan muncul lagi suara itu? ternyata lama aku tunggu, suara itu tidak muncul lagi. Maka aku pun melupakan kejadian itu.

Selanjutnya aku melakukan shalat sunah lagi. Begitu selesai mengucap salam yang ke dua sebagai penutup shalatku, tiba-tiba hatiku berdegup kencang. Bulu kudukku merinding lagi… Akh, suara itu terdengar lagi. Kini bertambah jelas, bertambah dekat, dan semakin indah iramanya… Aku pun terbuai dibuatnya.

Dengan perasaan agak takut, aku mencoba mengikuti kalimat itu. Hatiku mulai mengikutinya, Setelah itu bibirku mencoba mengikutinya, Ah! sungguh agung, sungguh menyejukkan. .. dan sungguh mempesona.

Dan di hari yang ke tiga itu, aku ternyata bisa mengikuti kalimat indah itu…subhaanallaah … Bibirku mulai bergerak mengikuti suara itu. Suara gemuruh dari berjuta-juta suara, yang membentuk harmoni luar biasa.

Suara itu, kalimat agung itu berbunyi :
“..laa ilaaha illallaah,.. . laa ilaaha illallaah,.. . laa ilaaha illallaah… “

Aku pun tenggelam dalam alunan dzikir yang luar biasa indahnya itu. Entah sampai berapa puluh kali atau bahkan berapa ratus kali aku mengikuti dzikir indah itu aku tidak tahu…. Sampai akhirnya aku dikejutkan oleh suara iqamah bilal.

Aku mulai menyusun shaf untuk shalat berjama’ah, bersama-sama para jama’ah lainnya untuk melakukan shalat dhuhur…

Sesaat sebelum aku shalat dhuhur, tiba-tiba pikiranku melayang kepada kehadiran seorang jama’ah yang pernah shalat di sebelahku yang
memberi minyak wangi di sekujur tubuhku dua hari sebelumnya itu. Pandangan matanya, senyumnya, masih begitu kuat tertanam dalam hatiku.

Apakah peristiwa yang barusan aku alami selama tiga hari berturut-turut itu ada hubungannya dengan orang tersebut?

Atau juga masih berhubungan dengan pengalamanku ketika pergi ke masjid, dimana saat itu setiap langkah kakiku aku gunakan untuk berdzikir? ..wallahu a’lam!

Sungguh aku masih bingung…
Aku pun berusaha untuk melupakan peristiwa itu, karena imam shalat sudah terdengar mengucapkan takbiratul ihram… Allaahu akbar! Kami semua mengikutinya untuk melakukan shalat berjama’ah.

Setelah usai shalat dhuhur, aku baru menyadari bahwa hari itu adalah hari terakhirku di kota Madinah. Dan saat itu merupakan shalat dhuhur terakhir kami di masjid Nabawi, sebelum menuju Mekah Al-Mukaromah.

Sesampai di maktab, kembali kubuka buku catatanku. Ku tulis ulang lanjutan pengalaman aneh, indah, dan mempesona yang terjadi selama tiga kali di masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu.

Aku tetap masih merasa heran, dan merasa aneh! Siapakah yang berdzikir itu? Ribuan malaikat? Jutaan partikel yang ada di udara? Atau milyaran bio-elektron yang ada di seluruh penjuru dunia ini? Ataukah suara dzikirnya orang-orang shalih terdahulu yang terekam oleh alam, kemudian pada saat itu terdengar olehku, sampai sebanyak tiga kali?
Aku tidak berani mengambil kesimpulan apapun….

Yang jelas, yang terdengar oleh telinga lahirku dan oleh telinga bathinku saat itu adalah kalimat indah: ” …laa ilaaha illallaah… ” berulang kali. Bergemuruh, tetapi tidak memekakkan telinga. Bergemuruh, tetapi mendatangkan rasa nyaman di dada. Rasanya baru kali itu aku mendengar dan menyaksikan suatu harmonisasi dari jutaan warna suara yang berbeda, yang menyatu membentuk konfigurasi yang luar biasa indahnya…. .

Dan akupun teringat sabda rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Seutama-utama dzikir ialah : Laa ilaaha illallaah”
(HR. Attirmidzi, Annasa’i, Ibn Majah, Ibn Hibban)

Rupanya inilah puncak dzikir. Pelajaran terindah bagi seluruh makhluk ciptaan Allah. Semua bertasbih! Seluruh alam berdzikir, untuk mentauhidkan Allah saja…

QS. Al-Hasyr (59) : 24
Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana…

QS. Al Israa’ (17) : 44
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Istigfar 28 November, 2009

Posted by mastoro in Menjemput Hidayah Allah.
add a comment

Mungkin masih ada di antara kita yang enggan membasahi bibir dengan memperbanyak istighfar,boleh jadi tidak sedikit orang yang lidahnya masih kelu untuk berulang-ulang mohon ampun kepada Allah. Padahal banyak perkara dalam hidup ini yang tidak dapat dilalui tanpa istighfar.Istighfar adalah sarana turunnya kasih sayang, rahmat dan cinta Allah. Cinta dan kasih sayang Allah tsb tercermin jelas dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Anas bin Malik ra..

“Sesungguhnya Allah lebih suka menerima taubat seorang hambaNya melebihi kesenangan seorang yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di tengah hutan.” (HR BUkhari Muslim)
Renungkanlah.. sedemikian senangnya Allah menerima taubatnya seseorang,namun manusia sendiri malah enggan istighfar & kembali pada jalan yang lurus yang mendapat rahmat Allah.

Rasulullah saja yang telah maksum dari dosa setiap hari tidak kurang 70 kali beliau beristighfar,apalagi kita manusia yang setiap detiknya selalu berkarya membuat tumpukan dosa,seharusnya lebih banyak beristighfar baik secara lisan,dalam hati maupun pikiran kita.Kesalahan dan dosa yang terus bertambah akan mengotori hati akan berdampak pada kondisi labil dan tidak seimbangnya kehidupan yang dijalani seseorang.

Banyak dosa yang tidak mampu kita rasakan dan kita raba,banyak kekeliruan yang tidak mampu kita rasakan sebagai kekeliruan,banyak kemaksiatan yang tidak kita sadari sebagai kemaksiatan.Jika kita termasuk yang rajin shalat apakah kita bisa bebas dari dosa yang tidak bisa kita rasakan?

Seperti perkataan Abu Bakar Al MUzanni,”Amal-amal manusia itu akan naik ke langit.Jika pada lembar catatan itu terdapat istighfar maka putihlah catatannya.Jika lembar catatan itu tidak terdapat istighfar,maka hitamlah catatannya.”

Istighfar ibarat air,yang menyirami dan membersihkan hati.Menghilangkan kotoran dan dosa dari jiwa. Istighfar adalah cahaya yang menghapus kegelapan orang-orang yang melakukan kemaksiatan. Istighfar akan memunculkan cahaya dalam hati seseorang.

Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan,”Salah satu sebab paling besar dari kesempitan hati adalah menjauh dari Allah dan lalai berzikir kepada Allah.”

Saat seseorang melakukan banyak dosa dan kemaksiatan maka hatinya menjadi keras,kesat dan legam karena dosa.Dan hal ini akan tercermin dari kesempitan hati,kegundahan,kerisauan pikiran,kebingungan. Istighfar akan menjadikan hati lebih bersih,sehingga bisa menerima kebenaran dan tunduk pada kebenaran dari Allah.

Kurangi STMJ dalam Hidup Kita 28 November, 2009

Posted by mastoro in Menjemput Hidayah Allah.
add a comment

Ngeh khan apa STMJ? “Sholat Terus Maksiat Juga terus..”

“Setiap anak Adam pasti menanggung dosa,tapi sebaik-baik manusia adalah yang segera bertaubat nashuha setelah mengetahui yang dilakukannya adalah salah.” Itulah sabda Rasulullah SAW.

Jangan meremehkan dosa-dosa kecil,karena dosa-dosa kecil yang dilakukan terus menerus akan menumpuk menjadi dosa besar. Ibarat debu..debu itu partikel yang amat halus akan tetapi ketika sebuah debu menimpa kaca,dan kaca tidak pernah dibersihkan,maka kaca itu makin tertutup oleh tebalnya debu, jika terus dibiarkan.. lama kelamaan debu akan menjadi kerak,dan makin susah dibersihkan.Dan kaca telah berubah tampilannya menjadi tembok karena tidak lagi tembus pandang ..

Begitu juga pikiran,hati dan raga manusia,harus rajin dibersihkan dengan memperbanyak amal sholeh.Perbanyak istighfar dan dzikir,
menambah prosentase sholat sunnah,sedekah,puasa sunnah,akan membersihkan diri secara total.
Kita isi pergantian Tahun Baru Islam ini dengan muhasabah..sejauh mana kita yang mengaku muslim benar-benar mengaplikasikan Syahadat,Rukun Islam dan Rukun Iman dalam keseharian kita?
Sudah benarkah selama ini kita menghamba pada Allah? bukan pada harta dan manusia?

Renungkan Hadits Rasulullah SAW di bawah,yang telah banyak menjadi kenyataan di jaman ini:
“Akan datang kepada manusia suatu zaman yang tak seorangpun menyisa kecuali ia akan memakan riba.Barangsiapa yang tidak ikut memakannya,ia akan terkena debunya.”
(kehidupan ekonomi & aliran uang di bank inilah realitanya)

“Bagaimana menurutmu bila agama diabaikan? banyak darah yang mengalir, zina dimana-mana, dan bangunan menjulang tinggi?”
(Ini juga sudah terbukti bukan?)

“Kiamat tidak akan tiba sehingga Al-Quran dianggap hina dan waktu saling berdekatan.”
(saat ini lebih banyak orang yang mengabaikan Al-Quran ketimbang mencintainya dg membaca & mengamalkannya,inipun terbukti. Sedang jangka waktu yang lama sering dibuat singkat oleh manusia dg tradisi instan.)

“Wahai manusia,bagaimana menurutmu jika istri-istrimu dan anak-anakmu durhaka dan berbuat keji?”
(Inipun telah banyak bukti,dengan adanya makin banyak perceraian,anak-anak melawan orang tua,terkena narkoba.)

“Orang berjalan di pasar sedang paha mereka tersingkap”
(Yang satu ini sudah tidak perlu bukti lagi..terlampau banyak..)

“Harta akan dialirkan untuk orang-orang yang mau berdusta”
(Siapa yang menyangkal hal ini terjadi saat ini?)

“Pada waktu itu manusia banyak yang meninggalkan jalan yang lurus.Kaum pria berhias seperti wanita dan wanita bersolek seperti raja diktator.
Apabila ada orang yang mengajak untuk taat pada Allah,maka justru diolok-olok.”
(inipun telah terbukti kebenarannya)

Tunggu Apalagi? Tinggalkan STMJ, ganti dengan perbanyak amal sholeh, jangan tertipu setan berwajah manusia disekitar kita.

Taubatan Nasuha 28 November, 2009

Posted by mastoro in Menjemput Hidayah Allah.
Tags: ,
add a comment

Beberapa kali saya menerima pertanyaan dan komentar seputar tentang taubat..

Cobalah simak berikut ini,
“Saya melakukan sebuah dosa besar,saya telah bertaubat,tetapi saya mengulangi lagi perbuatan dosa tsb,
apakah jika saya bertaubat,taubat saya akan diterima oleh Allah?”
“Saya termasuk orang yang rajin beribadah,sholat tidak pernah saya tinggalkan,tetapi ketika saya bertemu dengan pacar saya, saya bisa melakukan zina.Saya bertaubat,tetapi saya juga selalu mengulangi perbuatan dosa tsb.”
“Saya adalah seorang murid yang pernah melakukan dosa besar,saya bertaubat secara lisan,hati dan perbuatan di depan Guru Ngaji saya di hadapan Allah bersumpah meninggalkan dosa yang pernah saya lakukan dan mengganti dengan amal ibadah yang banyak. Namun beberapa tahun kemudian saya melakukan kembali dosa yang sama..apakah saya masih akan diampuni Allah?

Dari ketiga cuplikan di atas mencerminkan bahwa betapa Taubat yang diartikan banyak orang adalah bukan Taubat Nashuha. Melainkan tobat Cabe. ( udah tau pedas masih dimakan juga, udah tau salah masih diulang juga). Ditinggalkan tapi di kemudian hari diulangi lagi,bahkan lebih parah lagi tuh dosa. Karena apa, pertama kali orang melakukan dosa karena tidak memahami akan dosa tsb, Allah masih memberikan adzab yang setimbal dengan dosanya. Akan tetapi ketika seseorang tahu itu sebuah dosa,tetapi dilakukan juga,
adzab yang diberikan Allah lebih besar daripada ketika seseorang tidak memahami bahwa hal itu merupakan dosa.

Perintah dari Allah supaya kita bertaubat dijumpai dalam banyak ayat Al-Quran. Namun taubat yang dimaksudkan adalah taubat yang sebenar-benarnya, yang disebuat Taubat Nashuha. Yaitu tidak kembali kepada kesalahan yang sebelumnya diperbuat dan mengganti dengan amal ibadah yang banyak.Setiap taubat yang sungguh-sungguh dari dosa sebesar apapun, akan dibukakan pintu ampunan oleh Allah, bahkan Al-Quran menggambarkan kebahagiaan Allah itu seperti seorang gembala yang kehilangan peliharaannya, kemudian menemukannya kembali. Sebegitu senangnya Allah menerima kembalinya kita pada-Nya karena Allah memiliki sifat Ghofurur Rohim,Maha Pengampun.

Taubat seseorang itu bisa dilihat dari beberapa hal:
1. Mengendalikan lisan dari ucapan yang tidak berguna
2. Jauh dari rasa iri,dengki dan sikap permusuhan
3. Menghindari lingkungan/teman yang buruk
4. Taat pada perintah Allah dan menjauhi laranganNya

Tanda apa yang bisa diketahui bahwa taubat seseorang diterima?
1. Berkumpul dengan orang yang sholeh dan tidak bergaul dengan teman buruk. (Sebenarnya yang namanya teman hendaknya selalu mengajak kepada kebaikan, jika ada teman yang mengajak pada kedzaliman berarti ia bukanlah teman tetapi musuh dalam selimut. Karena senang jika kita dalam keburukan)
2. Senantiasa menjauhi perbuatan dzalim dan rajin beribadah
3. Tidak terpancang hanya pada kepentingan dunia, sebaliknya selalu ingat akan adanya Akherat sehingga apa yang dilakukan di dunia adalah persiapan untuk hari akhir.
4. Tawakal atas rezeki yang diberikan Allah setelah berikhtiar

Tingkatan Taubat menurut Imam Ghazali adalah sbb:
Pertama: bertaubatnya seseorang dan istiqomahnya ia di jalan Allah hingga akhir hayatnya.Sehingga ia disebut As-Sabiq Bil Khairat yang artinya mampu merubah perilaku buruk dengan kebaikan. inilah taubat yang sebenarnya/Taubat Nashuha yang insyaAllah akan mendapat ridho Allah dalam kehidupannya baik di dunia maupun di akherat.
Kedua: Orang yang bertaubat dari dosa besar,tetapi dalam perjalanan taubatnya selalu mendapat ujian hingga tidak sengaja ia terjatuh dalam dosa,tetapi hatinya senantiasa sedih dan menyesal sehingga ia berusaha memperbarui tindakannya dengan memperbaiki niatnya.
Ketiga: orang yang bertaubat untuk beberapa lama tapi kemudian hawa nafsu mengalahkannya sehingga ia berbuat dosa lagi.Namun demikian ia masih mau melakukan amal shaleh,ia masih meminta pertolongan Allah agar mampu mengendalikan hawa nafsunya.
Keempat: orang yang bertaubat hanya sebentar saja,tapi kemudian berbuat dosa lagi tanpa dibarengi penyesalan sedikitpun,bagaikan orang lalai bahwa ia telah bertaubat.Pada tingkatan ini ditakutkan orang bisa meninggal dalam keadaan su’ul khatimah.Yaitu ajal menjemputnya saat ia melakukan dosa, bukan saat ia bertaubat.Naudzubillah.

Semoga dengan tahunya kita semua akan taubat,membuat kita benar-benar bertaubat meninggalkan dosa besar,terus bertaubat dari dosa-dosa kecil,senantiasa memperbarui niat dan melakukan lebih banyak amal shaleh.

Ya Ghofur Ya Bashir..
Engkau Maha Melihat segala perbuatan kami yang tampak dan tersembunyi
Engkau juga mengetahui segala dosa dan taubat yang kami lakukan
Kepada siapa lagi kami memohon ampun jika bukan Engkau yang Mengampuni kami?
Mudahkanlah jalan taubat kami Ya Allah,Ya Fatah..Ya Rozak.. ya Latif.. Ya Allah…
Aminnn..

 

di kutip dari http://bening1.wordpress.com/2009/04/06/324/

11 Keunggulan Windows 7 8 November, 2009

Posted by mastoro in Teknologi IT, Game dan Konco konconya.
Tags:
add a comment
JAKARTA – Kehadiran Windows 7 yang baru saja dirilis di Indonesia hari ini, tentunya dilengkapi dengan sejumlah fitur-fitur tambahan yang diklaim Microsoft merupakan penyempurna dari sistem operasi sebelumnya.
Bertempat di Hard Rock Cafe, Jakarta, Kamis (22/10/2009), Microsoft memaparkan keunggulan Windows 7 yang dipenuhi dengan fitur hiburan, tingkatan keamanan yang mumpuni, dan tampilan antar muka diperbaharui, sehingga nampak interaktif dan elegan.
Dan berikut merupakan 11 fitur keunggulan yang di dapat dalam Windows 7,
Windows Taskbar yang Diperbaharui
Taskbar pada Windows 7 memudahkan kendali dan membantu untuk mengakses program dan file yang dibutuhkan secara lebih cepat. Setiap Windows yang ada di taskbar dapat dilihat secara penuh apabila mouse diarahkan ke windows tersebut. Dengan ukuran ikon yang lebih besar membuatnya mudah di-klik dengan windows ataupun dengan fitur multi-touch Windows 7. Program dan file yang sering digunakan dapat mudah ditempatkan di taskbar untuk pengaksesan lebih cepat.
Jump List
Jump list disetiap program pada menu start dan windows taskbar mempermudah dalam mencari sesuatu. Secara otomatis disusun berdasarkan yang paling baru dan sering dibuka sehingga lebih sedikit waktu yang dibutuhkan untuk mencari lagu favorit, atau file yang baru dikerjakan.
Snap, Shake, Peek
Program dan file yang sering digunakan dapat diakses dengan mudah tanpa desktop menjadi berantakan. Dengan adanya peek, arahkan muse ke kanan bawah taskbar dan semua windows yang terbuka ke arah yang lebuh jauh untuk mengukur ulang (re-size) windows tersebut, sehingga dua windows dapat terbuka pada sisi kana dan kiri secara bersamaan, untuk melakukan perbandingan.
Dengan shake, klik satu windows dan goyangkan mouse untu minimize windows lauin yang sedang terbuka.
Windows Touch
Fitur layar sentuh telah dimasukan ke dalam Windows 7 dan tersedia pada PC dengan layar sentuh. Dengan fitur layar sentuh, gambar dapat diperbesar dengan menempatkan kedua tangan. Browsing Interner Explorer 8 juga akan semakin mudah denga  fitur ini.
Home Group
Home Group di Windows 7 membuat berbagi file diantar PC da n device di rumah menjadi lebih mudah. Melalui Home Group, PC dengan IWndows 7 dapat secara otomatis mengidntifikasikan dan tersambung dengan yang lannya.
Fastern on, Fastern off
Pengguna Windows 7 akan memperoleh manfaat dari peningkatan kinerja waktu memulai (start-up), resume dan menutup matikan (shut dows) PC yang lebih cepat dan peningkatan power management.
Windows Live Essentials
Komunika dan berbagai layanan merupakan salah satu hal yang penting. Di Windows 7, fitur yang ada di versi Windows sebelumnya akan disediakan secara cuma-cuma melalui program Windows Live Essentials. Pengguna dapat mengakses data offline dan melakukan berbagai hal untuk foto, video dan hal lainnya.
Internet Explorer 8
Berselancar di dunia maya dengan IE 8 semakin matap dengan menyesuaikan keperluan penggunaanya melalu peningkatan di kecepatan, dan smart screen filte, yang membabtu PC tetap aman dengan memberitahu situs yang memiliki potensi bahaya.
Windows Search
Fitur ini dapat mengidentifikasikan lokasi dan membuka file apapun pada PC dari menu start dengan hanya mengetik satu atau dua kalimat.
Web Slices
Fitur ini merupakan yang terbaru di Windows 7 dimana pengguna dapat memotong bagian yang ditargetkan dari sebuah situs yang kemudian ditempatkan di toolbar Internet Explorer 8 untuk referensi yang mudah dan cepat.
Parental Control
Membantu mengatur waktu yang spesifik dan menentukan program, situs serta game yang diperbolehkan untuk diakses anak-anak.

Kekurangan dan kelebihan windows 7 8 November, 2009

Posted by mastoro in Teknologi IT, Game dan Konco konconya.
Tags:
add a comment

Kelebihan Windows
- Berjalan lebih cepat dibandingkan Vista, tapi masih sedikit lebih lambat dibandingkan XP, tapi untuk versi x64 merupakan versi yang paling cepat bila dibandingkan XP atau Vista.
- Fitur sekuriti yang benar-benar ketat. Jika sebelumnya kita bisa memaksa software untuk dapat diinstal di Vista (karena ada masalah kompatibilitas), kini tidak lagi.
- Lebih sedikit membutuhkan ruangan harddisk
- Manajemen memory yang lebih baik
- Pengaturan taskbar yang lebih baik
- Hampir semua driver untuk Vista bisa digunakan di Windows 7
- Help Tool yang lebih baik.

Kekurangan:
- Ada hardware yang bisa langsung dikenali di Vista, tapi tidak di WIndows 7 (karena masih versi beta)
- Susah memaksa software yang sebelumnya bisa dipaksakan diinstall di VIsta, juga dipasang di Windows 7

Windows 7 ini sudah bisa didownload mulai bulan Januari 2008 ini dan akan berakhir trialnya sekitar bulan Agustus 2008.

Release resmi Windows 7 diperkirakan akhir 2009 atau awal 2010.

Kalau Anda ingin mencoba menggunakan Windows 7, sebaiknya dengan menggunakan dual booting, sehingga Anda tetap bisa bekerja dan main game di satu partisi XP, sambil mereview Windows 7 di partisi lainnya.

Dan jangan mengganti sistem operasi utama Anda menjadi Windows 7, karena pasti Anda akan banyak terganggu, dan Microsoft sendiri tidak menyarankan.

Untuk instalasi driver, Anda bisa mencoba untuk menggunakan versi Vistanya. Kalau tidak bisa, coba lihat disitusnya, mungkin sudah ada dukungan untuk Windows 7 betanya.

Kalau tidak ada juga, lebih baik menunggu saja hingga versi finalnya keluar

Kisah Nyata Satu Satunya Rumah Selamat Akibat Gempa Padang 8 November, 2009

Posted by mastoro in Menjemput Hidayah Allah.
Tags:
1 comment so far

SELAMAT. Ketika alam murka, Tuhan berkehendak. Jika memang Tuhan belum menghendaki, apa pun yang terjadi pada alam, tidak akan memberikan celaka kepada manusia, penghuni bumi. Betapa kuasa Tuhan, tatkala bencana datang ditunjukkan kepada keluarga Labai Ayuih, warga Tandikek yang hampir seluruh kampung terpendam tanah lonsgsor. Namun, tanah lonsgsor  tidak menutup rumah Labai, melainkan hanya melewati kiri dan kanan rumahnya. Sementara rumah di bawahnya, kesemuanya disapu longsoran tanah. (lagi…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.